Jumat, 22 Maret 2013

Tentang rasa yang tak kunjung terucap

Malam ini tak seperti biasanya, jauh kumenerawang akan perihnya hati ini,
Kehilangan, satu kata yang melukis dalamnya kenangan indahnya bersamanya
Bagaimana bisaa aku berhenti meratapi kenyataan bila akhirnya memang tak semudah membalikan telapak tangan,

Setahun lalu di Jogja,
Waktu itu disuatu malam kita terperangkap di sebuah halte oleh jebakan sang hujan dan saling curi pandang ditengah guyuran hujan yang tak berhenti
Hujan menahanku untuk memutuskan berkenalan denganmu, perlahan-lahan kau mendekatiku dengan pasti dan raut wajah kedinginanku membuatmu memutuskan untuk memberikan jaketmu kepadaku,
Jantungku berdetak kaget, ya memang karna kita saat itu kita tak saling mengenal yang sempat membuatku ragu akan kebaikanmu
Kata-kata yang kau ucap membuat kecemasanku luluh, membuatku yakin bahwa kau adalah orang baik-baik
Tapi bagaimana bisa? Rasanya aku pernah mengenalmu tapi dimana , jika tebakanku benar kau adalah salah satu mahasiswa di kampusku, teman-temanku sering membicarakan kepopuleranmu sebagai ketua dalam salah satu organisasi
Kini senyummu menggetarkan jiwa memberikan kehangatan sejenak saat itu.
Ketika hujan mereda kau bergegas meninggalkan jejakmu disini dan memintaku untuk tidak mengembalikan jaketmu saat itu tetapi lain hari


Jaket itu menjadi penghuni baru dalam kamarku sekaligus menjadi sejarah awal pertemuanku denganmu saat hujan menahan kita berdua,
Seperti biasa pagi ini kumelangkahkan kakiku menyusuri koridor karena jam pertama  akan dimulai,
Seketika tak dapat dimengerti olehku kubertemu denganmu(lagi) disaat yang tak terduga, hati dan otakku tak dapat berkordinasi dengan baik
Hatiku ingin bertahan tapi otakku memerintah untuk acuh

 Gugup , ya itulah yang kualami setiap melihatmu. Sekeras kucoba menghindar namun keyakinanku meguat bahwa kau telah melewati batas awal masuk kehidupanku saat kau diam-diam memperhatikanku
Saat itu sabtu siang, setelah jam kuliah selesai kau berdiri didepan papan pengumuman dan menghampiriku,
Aku kira saat itu kau inginmeminta jaketmu kembali tetapi meminta waktu untuk wawancara denganku untuk bahan risetnya
Sejak itu pertemanan kita makin kuat, hingga saat akhirnya kau memutuskan untuk melanjutkan kuliah dinegeri orang,

Secepat itu membuat hatiku mencelos , seakan akan jatuh namun tak terbayang betapa sakitnya,
Kini melihatmu menjadi sesuatu yang amat kutakuti, takut akan kehilangan senyum indah yang selalu menemani kesepianku ini,
Semua mungkin akan berakhir, tapi rasa yang kupendam kini makin menguat saat detik-detik kepergianmu , kau menitipkan sekotak hal yang tak pernah kuduga
Tak ada lagi yang bisa kuucap, namun kaumasih tersenyum sama seperti pertama kita berjumpa
Detik terakhir ni aku sama sekali terdiam dan menggenggam erat tanganmu, jelas terasa aliran darahmu tanganmu dingin membuatku mengingat memori awal saat kau meletakan jaket itu dibahuku
Dikotak yang kauberikan jelas semua perasaan mu kepadaku tapi mengapa kau meletakan kejujuran diakhir cerita dan menyisakan kenangan untuk terus bersamamu
Sekian lama kau menyimpan rasa untuk menyukaiku, membohongi diri dengan ratapan kesedihan dan kahirnya meninggalkanku disini sendiri

Sekarang kau telah pergi entah jauh dimana,
Menyisakan keperihan hati yang tak kunjung terucap,
Andai waktu bersamamu lebih lama tak kubiarkan hatiku teriris perasaan menyesal yang tak kunjung menepi,
Suatu saat ya, suatu saat jika waktu mengijinkan kita bertemu tak kubiarkan rasa sesal akan kehilanganmu terulang kembali


Aku masih menunggumu dengan perasaan yang sama ditempat yang sama dihalte bus saat hujan deras mempertemukan kita……

Ketika takdir mempertemukan
Layaknya lelucon yang diucap kepadaku
Aku masih tak percaya
Separuh ingin separuh tidak

Kehadiranmu membuat segalanya berbeda
Menghadirkan aroma baru menetralkan hidup
Sejak itu aku sadar ini bukan lelucon
Hal-hal nyata dalam hidupku

Kini hanya penyesalan yang kudekap
Tentang rasa yang terucap
Tentang kehilangan yang membuatku sadar
Bahwa penantian yang tak kunjung berakhir
 
Bukan kisah nyata hanya sebuah cerita dari hati
By Ayeyui







 






1 komentar: