Malam ini
tak seperti biasanya, jauh kumenerawang akan perihnya hati ini,
Kehilangan,
satu kata yang melukis dalamnya kenangan indahnya bersamanya
Bagaimana
bisaa aku berhenti meratapi kenyataan bila akhirnya memang tak semudah
membalikan telapak tangan,
Setahun
lalu di Jogja,
Waktu
itu disuatu malam kita terperangkap di sebuah halte oleh jebakan sang hujan dan
saling curi pandang ditengah guyuran hujan yang tak berhenti
Hujan
menahanku untuk memutuskan berkenalan denganmu, perlahan-lahan kau mendekatiku
dengan pasti dan raut wajah kedinginanku membuatmu memutuskan untuk memberikan
jaketmu kepadaku,
Jantungku
berdetak kaget, ya memang karna kita saat itu kita tak saling mengenal yang
sempat membuatku ragu akan kebaikanmu
Kata-kata
yang kau ucap membuat kecemasanku luluh, membuatku yakin bahwa kau adalah orang
baik-baik
Tapi bagaimana
bisa? Rasanya aku pernah mengenalmu tapi dimana , jika tebakanku benar kau
adalah salah satu mahasiswa di kampusku, teman-temanku sering membicarakan
kepopuleranmu sebagai ketua dalam salah satu organisasi
Kini senyummu
menggetarkan jiwa memberikan kehangatan sejenak saat itu.
Ketika
hujan mereda kau bergegas meninggalkan jejakmu disini dan memintaku untuk tidak
mengembalikan jaketmu saat itu tetapi lain hari
Jaket
itu menjadi penghuni baru dalam kamarku sekaligus menjadi sejarah awal
pertemuanku denganmu saat hujan menahan kita berdua,
Seperti
biasa pagi ini kumelangkahkan kakiku menyusuri koridor karena jam pertama akan dimulai,
Seketika
tak dapat dimengerti olehku kubertemu denganmu(lagi) disaat yang tak terduga,
hati dan otakku tak dapat berkordinasi dengan baik
Hatiku
ingin bertahan tapi otakku memerintah untuk acuh
Gugup , ya itulah yang kualami setiap
melihatmu. Sekeras kucoba menghindar namun keyakinanku meguat bahwa kau telah
melewati batas awal masuk kehidupanku saat kau diam-diam memperhatikanku
Saat itu
sabtu siang, setelah jam kuliah selesai kau berdiri didepan papan pengumuman
dan menghampiriku,
Aku kira
saat itu kau inginmeminta jaketmu kembali tetapi meminta waktu untuk wawancara
denganku untuk bahan risetnya
Sejak
itu pertemanan kita makin kuat, hingga saat akhirnya kau memutuskan untuk
melanjutkan kuliah dinegeri orang,
Secepat
itu membuat hatiku mencelos , seakan akan jatuh namun tak terbayang betapa
sakitnya,
Kini melihatmu
menjadi sesuatu yang amat kutakuti, takut akan kehilangan senyum indah yang
selalu menemani kesepianku ini,
Semua
mungkin akan berakhir, tapi rasa yang kupendam kini makin menguat saat
detik-detik kepergianmu , kau menitipkan sekotak hal yang tak pernah kuduga
Tak ada
lagi yang bisa kuucap, namun kaumasih tersenyum sama seperti pertama kita
berjumpa
Detik
terakhir ni aku sama sekali terdiam dan menggenggam erat tanganmu, jelas terasa
aliran darahmu tanganmu dingin membuatku mengingat memori awal saat kau
meletakan jaket itu dibahuku
Dikotak
yang kauberikan jelas semua perasaan mu kepadaku tapi mengapa kau meletakan
kejujuran diakhir cerita dan menyisakan kenangan untuk terus bersamamu
Sekian
lama kau menyimpan rasa untuk menyukaiku, membohongi diri dengan ratapan
kesedihan dan kahirnya meninggalkanku disini sendiri
Sekarang
kau telah pergi entah jauh dimana,
Menyisakan
keperihan hati yang tak kunjung terucap,
Andai
waktu bersamamu lebih lama tak kubiarkan hatiku teriris perasaan menyesal yang
tak kunjung menepi,
Suatu
saat ya, suatu saat jika waktu mengijinkan kita bertemu tak kubiarkan rasa
sesal akan kehilanganmu terulang kembali
Aku masih
menunggumu dengan perasaan yang sama ditempat yang sama dihalte bus saat hujan
deras mempertemukan kita……
Ketika takdir
mempertemukan
Layaknya lelucon
yang diucap kepadaku
Aku masih tak
percaya
Separuh ingin
separuh tidak
Kehadiranmu membuat
segalanya berbeda
Menghadirkan aroma
baru menetralkan hidup
Sejak itu aku sadar
ini bukan lelucon
Hal-hal nyata dalam
hidupku
Kini hanya
penyesalan yang kudekap
Tentang rasa yang
terucap
Tentang kehilangan
yang membuatku sadar
Bahwa penantian
yang tak kunjung berakhir
Bukan kisah nyata
hanya sebuah cerita dari hati
By Ayeyui
Nice post mbak
BalasHapus