Sabtu, 23 Maret 2013

23 MARET 2013

Awan yang mulai berubah menjadi abu-abu serta angin yang berhembus kencangnya tak menyurutkan niatku untuk mengejar ilmu dan segera mengambil kunci motor dan bergegas menyusuri jalanan kota,
Awalnya perasaan tidak enak ini tak kugubris mungkin hanya firasat aneh yang muncul kerap kali mendungnya awan. Satu persatu pohon kulalui serta trotoar jalan pun seakan bertanya kepadaku masihkah aku tak percaya pada kata hatiku.
Di tengah jalan hujan mengguyur segala yang kupakai dengan sigap aku berhenti memakai jas hujan orange yang sering kupakai. Kini perasaan tidak enak ku datang dua kali
Lagi-lagi semua itu tak kugubris, dengan hati-hati kujalankan motorku meninggalkan tempat tadi.
Setelah sampai segera ku  disambut oleh salaman petir yang menyambar tepat diatas kepalaku, dengan muka pucat menahan kedinginan danm kerasnya tamparan sang petir di langit kupandangi koridor kampus yang sepi
Satu, dua atau tiga bisa dihitung dengan jari berapa mahasiswa yang lewat, pohon yang bergoyang seakan menertawakanku yang masih mengigil dengan tatapan kosong. Dimataku kilat yang menyambar bagai kembang api yang sering dimainkan adikku menjelang hari lebaran.
Dan bodohnya aku tak tau harus kemana, kini benar-benar kurasakan arti kesepian padahal sudah lama aku merasakan ini , ketika langit berubah menjadi abu-abu dan taka ada seorangpun tempat berbagi ketakukan dikala petir menyambar.
Menuntut ilmu adalah alasan mengapa aku masih sendiri hingga saat ini, tak peduli alam seakan mengejek keadaanku. Bagiku hidup adalah pilihan , jika ingin yang terbaik kamu harus memilih satu diantaranya. Tidak ada yang namanya “tidak adil” ataupun “keegoisan”
Pernah kumenyesali keadaan ini namun tidak sepantasnya seperti ini. Aku harus bersyukur, ya bersyukur masih banyak orang lain yang tak mempunyai biaya untuk bersekolah. Aku tahu dunia ini sangat adil disaat kita mengorbankan keinginan untuk mempunyai pacar dengan fokus belajar sekalipun pasti akan membuahkan hasil.
Bagiku menyukai seseorang kini tak lebih dari cukup, masih banyak tugas dan kegiatan yang harus kulakukan bukan hanya itu,
Biarlah kukehilangan sesuatu yang belum saatnya aku raih, tetapi akan memberikan kejutan dihari esok.
Aku belajar untuk mensyukuri apa yang Tuhan beri kepadaku, aku sudah beranjak dewasa sudah sepantasnya aku menghargai arti kehidupan, ilmu yang kini telah kuraih tidak sepadat bulir-bulir padi yang telah masak. Masoih setengah ataupun seperempatnya.
Aku belajar dari kegagalan meski begitu bukan berarti harus pasrah pada kegagalan, tak ada pengorbanan yang sia-sia. Dan aku yakin.
Suatu hari aku pernah melihat sekelompok pemulung kecil yang tengah sibuk menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya yang sangat melelahkan. Peluh keringatnya pun menetes tapi tak menyurutkan semangatnya untuk terus mengais-ngais sisa barang bekas.
Hatiku terpukul bila dibandingkan dengan aku yang pernah egois dan tidak bersyukur, masih ada orang yang lebih menderita dari pada aku. Aku memang butuh kesenangan tapi ada batasnya, disaat cinta monyet melanda anak seumurku membuat aku lebih dewasa untuk menentukan prioritas mana yang harus didahulukan.
Rumah singgah, ya itu impianku yang sangat kuinginkan, melihat anak-anak kecil dapat mengenyam pendidikan walaupun sangat sedikit. Melihat senyumyang mengembang dipipinya, mendengar suara lucu yang mampu membaca huruf. Aku tidak ingin mereka buta huruf alasannya karena semua anak berhak untuk bersekolah berhak untuk hidup dan bisa mempertahankan hidupnya.
Guru sosiologiku ibu ismiyati beliau  mengajarkanku untuk hidup berguna bagi orang lain agar ilmu yang kita dapat berguna bagi orang lain. Beliau juga mengajarkanku untuk mengenyam pendidikan dengan ikhlas bukan semata untuk bersombong hati. Karena yang pantas memiliki jubah kesombongan hanyalah Tuhan semata. Taka ada gunanya mendapatkan sesuatu dari hal yang tidak jujur dan membanggakan diri.

Hujan dan petir menyadarkanku bahwa kesepian ini memberiku makna untuk bersabar, menuntut ilmu harus sabar banyak rintangan dan cobaan yang dilalui,
Aku ingin suatu saat nanti , aku ingin ilmuku berguna bagi orang yang membutuhkan,
Bila diberi banyak rezeki ijinkan untuk mendirikan rumah singgah yang berguna untuk memberantas kebuta aksaraan dinegriku tercinta INDONESIA.

Dari hatiku yang terdalam,
By Ayeyui


Jumat, 22 Maret 2013

Tentang rasa yang tak kunjung terucap

Malam ini tak seperti biasanya, jauh kumenerawang akan perihnya hati ini,
Kehilangan, satu kata yang melukis dalamnya kenangan indahnya bersamanya
Bagaimana bisaa aku berhenti meratapi kenyataan bila akhirnya memang tak semudah membalikan telapak tangan,

Setahun lalu di Jogja,
Waktu itu disuatu malam kita terperangkap di sebuah halte oleh jebakan sang hujan dan saling curi pandang ditengah guyuran hujan yang tak berhenti
Hujan menahanku untuk memutuskan berkenalan denganmu, perlahan-lahan kau mendekatiku dengan pasti dan raut wajah kedinginanku membuatmu memutuskan untuk memberikan jaketmu kepadaku,
Jantungku berdetak kaget, ya memang karna kita saat itu kita tak saling mengenal yang sempat membuatku ragu akan kebaikanmu
Kata-kata yang kau ucap membuat kecemasanku luluh, membuatku yakin bahwa kau adalah orang baik-baik
Tapi bagaimana bisa? Rasanya aku pernah mengenalmu tapi dimana , jika tebakanku benar kau adalah salah satu mahasiswa di kampusku, teman-temanku sering membicarakan kepopuleranmu sebagai ketua dalam salah satu organisasi
Kini senyummu menggetarkan jiwa memberikan kehangatan sejenak saat itu.
Ketika hujan mereda kau bergegas meninggalkan jejakmu disini dan memintaku untuk tidak mengembalikan jaketmu saat itu tetapi lain hari


Jaket itu menjadi penghuni baru dalam kamarku sekaligus menjadi sejarah awal pertemuanku denganmu saat hujan menahan kita berdua,
Seperti biasa pagi ini kumelangkahkan kakiku menyusuri koridor karena jam pertama  akan dimulai,
Seketika tak dapat dimengerti olehku kubertemu denganmu(lagi) disaat yang tak terduga, hati dan otakku tak dapat berkordinasi dengan baik
Hatiku ingin bertahan tapi otakku memerintah untuk acuh

 Gugup , ya itulah yang kualami setiap melihatmu. Sekeras kucoba menghindar namun keyakinanku meguat bahwa kau telah melewati batas awal masuk kehidupanku saat kau diam-diam memperhatikanku
Saat itu sabtu siang, setelah jam kuliah selesai kau berdiri didepan papan pengumuman dan menghampiriku,
Aku kira saat itu kau inginmeminta jaketmu kembali tetapi meminta waktu untuk wawancara denganku untuk bahan risetnya
Sejak itu pertemanan kita makin kuat, hingga saat akhirnya kau memutuskan untuk melanjutkan kuliah dinegeri orang,

Secepat itu membuat hatiku mencelos , seakan akan jatuh namun tak terbayang betapa sakitnya,
Kini melihatmu menjadi sesuatu yang amat kutakuti, takut akan kehilangan senyum indah yang selalu menemani kesepianku ini,
Semua mungkin akan berakhir, tapi rasa yang kupendam kini makin menguat saat detik-detik kepergianmu , kau menitipkan sekotak hal yang tak pernah kuduga
Tak ada lagi yang bisa kuucap, namun kaumasih tersenyum sama seperti pertama kita berjumpa
Detik terakhir ni aku sama sekali terdiam dan menggenggam erat tanganmu, jelas terasa aliran darahmu tanganmu dingin membuatku mengingat memori awal saat kau meletakan jaket itu dibahuku
Dikotak yang kauberikan jelas semua perasaan mu kepadaku tapi mengapa kau meletakan kejujuran diakhir cerita dan menyisakan kenangan untuk terus bersamamu
Sekian lama kau menyimpan rasa untuk menyukaiku, membohongi diri dengan ratapan kesedihan dan kahirnya meninggalkanku disini sendiri

Sekarang kau telah pergi entah jauh dimana,
Menyisakan keperihan hati yang tak kunjung terucap,
Andai waktu bersamamu lebih lama tak kubiarkan hatiku teriris perasaan menyesal yang tak kunjung menepi,
Suatu saat ya, suatu saat jika waktu mengijinkan kita bertemu tak kubiarkan rasa sesal akan kehilanganmu terulang kembali


Aku masih menunggumu dengan perasaan yang sama ditempat yang sama dihalte bus saat hujan deras mempertemukan kita……

Ketika takdir mempertemukan
Layaknya lelucon yang diucap kepadaku
Aku masih tak percaya
Separuh ingin separuh tidak

Kehadiranmu membuat segalanya berbeda
Menghadirkan aroma baru menetralkan hidup
Sejak itu aku sadar ini bukan lelucon
Hal-hal nyata dalam hidupku

Kini hanya penyesalan yang kudekap
Tentang rasa yang terucap
Tentang kehilangan yang membuatku sadar
Bahwa penantian yang tak kunjung berakhir
 
Bukan kisah nyata hanya sebuah cerita dari hati
By Ayeyui