Rabu, 25 September 2013

Kamu, Kita, Bola dan Kenangan.

Hai setelah lama menghilang akhirnya hari ini gue balik lagi, malam ini mood muncul lagi setelah lama off air di dunia cerita. and check this out........

Pagi ini matahari menyapaku lewat jendela yang bercat kusam. Cahayanya menembus permukaan kaca sehingga aku dapat melihat dengan jelas debu yang beterbangan disekelilingku. Lantas aku mengeluarkan sapu tanganku lalu bergegas untuk pergi menjauh. Di ruangan sangat luas itu saksi semua kisahku, awal kisahku bertemu dengannya pertama kali. Di tempat itu aku mengobati sakit hatiku , membuka jalan hatiku yang selama ini tertutup dan mengijinkan seseorang masuk perlahan dalam rute perjalanan hidupku, dan itu karena Dia.

Laki-laki itu, tubuhnya yang jangkung serta postur seorang atlet, senyumannya yang tipis memberi nuansa nyaman saat aku berada didekatnya.Tak pernah tau dari mana asalnya rasa itu datang, kapan dan dimana. Sesaat setelah dia didekatku kupu-kupu beterbangan dalam perutku, saat itu aku mengetahuinya , aku telah jatuh cinta.

Aku terlahir dikeluarga yang mencintai sepak bola. Semua berawal dari alm. kakek yang selalu mengajakku untuk menonton channel bola kesukaannya, bermain bola bersama dan aku tahu itu tak wajar untuk seorang gadis sepertiku. Sepeninggal kakek aku mulai merasakan rindu akan hadirnya, dan sampai sekarang aku masih mencintai hal yang berbau dengan sepak bola, hingga pada suatu saat aku beranjak dewasa dan mengerti bahwa aku mulai mengaguminya. 

20 September 2013,

Hari ini tim sepak bola sekolahku sedang mengadakan latihan untuk futsal champion untuk beberapa waktu mendatang di Jakarta, dan itu tandanya mereka harus giat berlatih selama beberapa minggu kedepan demi meraih gelar emas seperti tahun-tahun sebelumnya. Gedung olah raga kini disesaki oleh penonton yang sebagian besar anak perempuan yang memenuhi setiap sudut gedung, mereka berteriak sambil cekikikan dengan raut muka tersipu malu. Aku tahu setiap menjelang latihan para gadis-gadis itu sengaja membuang-buang waktu mereka hanya untuk melihat idolanya. Pantas saja mereka berlaku seperti itu, di tim sekolahku tidak bisa sembarang anak yang masuk semua disaring melaui tes, dari postur tubuh, berat badan dan yang terpenting skill.
Aku yang terseret masuk ke gedung ini hanya karena tugas mading yang harus diselesaikan minggu ini. Aku sudah bolak-balik untuk mencari ide untuk mading minggu depan, dan akhirnya kuputuskan untuk menulis berita terbaru untuk diposting. Dengan kamera SLR yang menggantung dileher , aku mulai menelusuri tempat duduk penonton. Sesekali kakiku terinjak oleh anak-anak perempuan yang setengah mati berloncat-loncat kegirangan melihat para pemain yang sedang melakukan pemanasan. Sial, seharusnya aku tidak disini desisku pelan.
Asyik merekam segala gerak-gerik pemain akhirnya pandangannku terhenti oleh seorang laki-laki tinggi jangkung dengan alis tebal ditengah lapangan, ayunan kakinya dengan mantap terarah ke arah bola dan berhasil mencetak gol dengan kakinya yang gesit mengingatkan aku pada Van Persie pemain di club favoritku Manchester United. Kali ini bukan hanya tendangannya yang mirip club setan merah itu tapi senyumnya yang bangga atas kerja kerasnya menggiring bola. Di sisi lain hatiku bergetar melihat pemilik senyum manis itu.

Hari akan terus berlalu, setelah tugas mading selesai yang mampu menguras otak kusempatkan untuk melihat lihat gedung olah raga mengingat kenangan saat aku melihatnya. Hari ini sekolah sepi karena hari minggu dan setauku tak ada jadwal latihan futsal hari ini karena futsal champion tinggal didepan mata. Aku menyusuri koridor dan mulai mengingat kejadian sore itu, disaat pandangannku tak bisa lepas darinya. Bergegas aku turun ke bawah berjalan mengitari gawang dan duduk di situ, kuarahkan kameraku dan sesekali kumainkan bola kearah gawang.
Sesaat dia datang, sendiri menyelidiki sikapku, memerhatikan dibelakangku yang memainkan tombol view picture di kameraku. Dia mengetahui segalanya, foto-fotonya yang ada dikameraku , semenjak itu kami berkenalan, di ruangan sepi ini dia menceritakanku banyak hal, bola, kerja keras dan segalanya. Dengan gaya bahasanya yang jelas aku tahu dia sempurna. Namun akankah dia menjadi milikku? apakah masih ada laki-laki yang mau menerima perempuan biasa sepertiku? Aku kalah sebelum bertanding, haruskah kuperjuangkan cintaku? Banyak yang mengaguminya ,aku satu dari sekian banyak anak perempuan yang duduk pada saat itu memerhatikanmya. Aku tahu berharap tidak mudah, siap jatuh siap terluka.

Dan pada saat itulah aku tak pernah melihatnya lagi semenjak futsal champion itu dia mendapat beasiswa ke luar negeri untuk berlatih lebih lanjut. Disini dirungan ini kugantungkan kisahku bersama matahari pagi yang selalu menyapaku disaat kumerindukannya, akan hembusan nafasnya srta senyuman tipis yang selalu menghiasi sudut bibirnya. Akankah dia kembali ? akankanh dia membalas segala penantianku selama ini, ataukah hanya menghampiri lalu pergi lagi dan memutuskan untuk bersama yang lain. Disini di gedung ini, kugantungkan harapanku untukmu, dan aku selalu menunggumu sang penendang hebat.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar