Jumat, 28 Maret 2014

Love is blind

"Didekatnya aku lebih tenang, bersamanya jalan lebih terang" - Tulus, Teman hidupku
--

Aku telah lama berjalan menyusuri ruang kehidupan mencari-cari pemegang kunci yang pas. Telah banyak jalan sudah kulalui, berputar, kembali, berbalik maupun sekedar beristirahat. Berputar membuatku kembali kemasa lalu, kembali membuatku jatuh dalam kesalahan yang sama, berbalik membuatku hanya terdiam dalam bayang-bayang waktu yang telah lalu, aku pernah beristirahat namun bukan pada pelabuhan yang tepat. Lalu kemanakah hatiku harus berlabuh jika berputar,kembali dan berbalik hanya membuatku semakin tersesat dalam permainan kehidupan?
--

Rindu. Satu kata yang menyesakkan. Apakah seseorang bagian bumi lain itu juga merindukanku? Jika waktu bisa berjalan lebih cepat mungkin rinduku tak sebesar ini. Memutar kembali memori-memori lalu yang selalu membuatku merindukannya. Hanya kepada dia kutitipkan rindu yang tak pernah akan habis. Hanya kepadanya yang selalu membuat detak jantungku berdetak lebih cepat.
--

Aku berjanji tak akan menjadi benar seandainya mencintaimu salah. Mulutku memang berkata untuk tak lagi mencintaimu, namun tak bisa kubohongi hatiku yang masih tetap menyimpan rasa itu. Rasa yang terselip disetiap perhatianmu tak pernah mampu menggugah rasa ini. Aku tahu mencintaimu adalah salah, namun tak pernah bisa aku memerintahkan otakku untuk berhenti. Hatiku telah tercuri.

--

Untuk seseorang kutitipkan rinduku padamu saat bintang malam menyapaku ditengah sunyinya malam, kuselipkan doaku pada Tuhan agar kamu selalu sehat disana.

--

Telah kusadari dipenghujung penantianku, aku terlalu jahat menyakiti banyak orang yang mengharapkanku, aku terlalu banyak menolak hanya untuk seseorang yang mungkin tak akan pernah bisa membalas perasaanku, aku menolak banyak harapan mereka untuk bisa menaklukan hatiku, namun nyatanya hatiku hanya untuk seseorang yang selalu kunanti tanpa pernah ada balasan. Mengapa hatiku begitu keras? Mengapa aku masih tetap bertahan ? Tak cukupkah aku dikecewakannya? Mengapa aku masih bisa memaafkan? Mengapa aku masih menunggunya? Mengapa dia tak pernah pergi dari pikiranku? Mengapa ini begitu sulit? Karna aku sayang, memendam kerinduan yang tak pernah untuk diungkapkan, memendam rasa seorang diri, apa dia tahu? mungkin memang aku harus melepaskannya, mungkin lebih baik aku mengakhiri semuanya ,karena kadang kesetiaan masih diragukan, kadang cinta tulus selalu diabaikan daripada cinta rekayasa, kadang yang biasa kalah dengan yang lebih cantik.